PERBEDAAN PARAH: RUMAH SAKIT & HOTEL

Dari pengalaman beberapa kali keluar masuk hotel, saya sudah merasa terbiasa dengan sambutan hangatnya. Begitu pintu taksi dibuka, sudah ada yang menyambut dengan senyuman dan sapa. “Good morning Sir!”, atau semacamnya lah! More »

SUPERNURSE: PERAWAT MASA DEPAN

Fenomena lima tahun terakhir yang dihadapi perawat Indonesia menjanjikan dua hal: kekuatiran dan keyakinan. Kekuatiran akan meledaknya jumlah perawat, karena 2000 lembaga pendidikan, lulusannya tidak sanggp ditampung oleh pemerintah dan swasta, sementara More »

MASCOT OF NURSING

Amerika Serikat memiliki the White House. China terkenal dengan the Great Wall. India, Taj Mahal. Egypt dengan Piramid nya. Paris dengan Eifel. Kota Batu Malang dengan Apel. Solo dengan Batiknya. Semarang dengan More »

DAFTAR KEBUTUHAN PERAWAT INDONESIA

Berikut ini adalah 20 daftar kebutuhan yang banyak dicari perawat Indonesia: 1. Sandang, pangan, papan dan biologis, seperti yang ditulis Maslow 2. Rasa aman dan nyaman, makanya, butuh memiliki rumah, minimal dua More »

GUEST LECTURE, SEMINAR & PEMATERI: ASAL TAHU

Dalam berbagai kesempatan, apakah itu melalui seminar atau kuliah tamu, saya selalu sempatkan melakukan 3 hal. Pertama, ketemu mahasiswa atau peserta langsung, untuk mengetahui apa sih yang mereka harapkan dari event ini. More »

 

KONTROVERSI TERAPI KOMPLEMENTER

jamu-tradisional

Foto: indo-digital.com

INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Ariyanto, SKM | Seperti yang ditulis oleh Bp. Arwani, SKM.BN.Hons.MN (Media Sehat edisi 20), bahwa sampai saat ini terapi komplementer telah berkembang pesat menjadi bagian dari pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Hadirnya terapi komplementer ini masih menimbulkan kontroversial tentang etis tidaknya apabila diterapkan dalam layanan kesehatan. Dalam praktiknya, terapi komplementer telah banyak kita jumpai di lingkungan sekitar kita. Selain dari tenaga kesehatan, banyak juga diantara penyelenggara praktik komplementer tersebut tidak mempunyai background pendidikan kesehatan, tetapi didapat dari pelatihan- pelatihan maupun mewarisi bakat turun temurun dari keluarganya. Lalu etiskah jika perawat menerapkan praktik terapi komplementer ? Menurut saya, justru dengan adanya kontroversial isu etik terapi komplementer ini, bagi perawat dapat diambil sebagai peluang untuk dapat berperan didalamnya.
Dasar Hukum

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan. Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji institusi berwenang sesuai dengan ketentuan berlaku.

Selain itu, dalam Permenkes RI No 1186/Menkes/Per/XI/1996 diatur tentang pemanfaatan akupunktur di sarana pelayanan kesehatan. Di dalam salah satu pasal dari Permenkes tersebut menyebutkan bahwa pengobatan tradisional akupunktur dapat dilaksanakan dan diterapkan pada sarana pelayanan kesehatan sebagai pengobatan alternatif di samping pelayanan kesehatan pada umumnya. Di dalam pasal lain disebutkan bahwa pengobatan tradisional akupunktur dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian/keterampilan di bidang akupunktur atau oleh tenaga lain yang telah memperoleh pendidikan dan pelatihan akupunktur. Sementara pendidikan dan pelatihan akupunktur dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Sementara itu, Keputusan Menkes RI No 1076/Menkes/SK/VII/2003 mengatur tentang penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Di dalam peraturan tersebut diuraikan cara- cara mendapatkan izin praktek pengobatan tradisional beserta syarat- syaratnya. Khusus untuk obat herbal, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menkes RI Nomor 121 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Medik Herbal. Untuk terapi SPA (Solus Per Aqua) atau dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai terapi Sehat Pakai Air, diatur dalam Permenkes RI No. 1205/ Menkes/Per/X/2004 tentang pedoman persyaratan kesehatan pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).

Konsep Keilmuan

Pada dasarnya, terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem-sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh, agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat.

Ada banyak jenis metode dalam terapi komplementer ini, seperti akupuntur, chiropractic, pijat refleksi, yoga, tanaman obat/ herbal, homeopati, naturopati, terapi polaritas atau reiki, teknik-teknik relaksasi, termasuk hipnoterapi, meditasi, visualisasi, dan sebagainya. Obat- obat yang digunakan bersifat natural/ mengambil bahan dari alam, seperti jamu-jamuan, rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan sebagainya), sampai bahan yang dirahasiakan. Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu yang diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan.

Lalu, amankah berbagai terapi komplementer tersebut? Para ahli berpendapat bahwa terapi komplementer relatif aman karena menggunakan cara- cara alami yang jauh dari bahan- bahan kimia yang jelas-jalas banyak memberikan efek samping pemakainya. Namun, walaupun alami tetap harus dikaji dan diteliti tingkat keefektifan dan keamanannya. Memang penelitian tentang terapi komplementer masih jarang, dikarenakan belum memiliki standar yang baku.

Terapi ini tidak selalu dirancang untuk mengobati penyakit tertentu, beberapa terapi alternatif merawat orang secara keseluruhan, bukan suatu penyakit tertentu. Terapi ini mungkin dapat mengembalikan keselarasan, keseimbangan, atau menormalkan aliran energi. Penelitian ilmiah sangat mahal biayanya.

Pembuat terapi alternatif seringkali tidak mampu membayar untuk sebuah penelitian ilmiah. Pemerintah lebih cenderung untuk mendanai penelitian obat-obatan barat karena dipandang lebih efektif. Dengan hak paten, para produsen dapat memperoleh keuntungan yang membantu mendanai penelitian. Sedangkan kebanyakan terapi komplementer tidak dapat dipatenkan. Namun halangan-halangan ini bukan berarti tidak ada terapi komplementer yang secara sukses diteliti, beberapa terapi telah teruji dan terbukti kemanjurannya.

Mengakomodasi dalam praktik keperawatan

Menurut saya, terapi komplementer ini sangat perlu untuk menjadi bahan kajian dunia keperawatan, terutama di ranah keperawatan komunitas. Lebih bagus lagi jika dapat masuk dalam kurikulum pembelajaran. Namun para pengajar tentunya tidak serta merta mengajarkan semua jenis terapi komplementer tanpa didasari kajian ilmiah yang jelas. Sebelum diajarkan, perlu dikaji antara lain mengenai kapan dan bagaimana terapi ini diikembangkan, bagaimana cara kerjanya, apakah ada artikel atau penelitian mengenai terapi ini, apakah diketahui mengenai efek samping atau risiko lain, dan sebagainya.

Sehingga para pengajar/ dosen nantinya dapat memilah jenis terapi maupun lingkup terapi komplementer mana sajakah yang pas untuk diajarkan kepada mahasiswa keperawatan.

Sehingga diperlukan pengaturan sistem kurikulum yang terprogram dari seluruh instansi keperawatan agar tidak terjadi perbedaan pemahaman dalam pengajaran terapi komplenter tersebut. Diskusi- diskusi tentang terapi komplementer ini harus terus dikembangkan di dunia keperawatan yang melibatkan unsur ahli terapi komplementer dari segi praktik, akademisi/ dosen secara teori, pengambil kebijakan, organisasi profesi, dan unsur- unsur terkait lainnya.

Selain itu, untuk menunjang terapi ini diperlukan juga penelitian berkelanjutan, sehingga perawat selain menggali keilmuan klinik diharapkan juga dibekali dengan ilmu riset/ penelitian dan ilmu farmakologi yang cukup. Karena selama ini dua ilmu ini relatif masih kurang dimiliki oleh perawat. Kita semua berharap bahwa ilmu keperawatan akan terus berkembang dan diikuti pula oleh peluang- peluang yang dapat dibidik di dalamnya.

Perawat merupakan profesi kesehatan yang merawat pasien dengan melakukan pendekatan secara holistik (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual). Dan terapi komplementer ini juga dianggap sebagai terapi dengan pendekatan holistik karena berusaha menyembuhkan pasien dengan memandang dari berbagai sudut dan beraneka aspek kehidupan pasien. Terapi komplementer sekarang ini telah banyak dikembangkan dan dapat hidup berdampingan dengan pengobatan modern/ konvensional, sebagai contoh adalah Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, yang membuka Poliklinik Obat Tradisional Indonesia. Menurut Djarot Sudiro, herbalog di poliklinik itu, sejak dirintis pada 1999, berbagai metode pengobatan komplementer ditawarkan di poliklinik tersebut, dari terapi herbal, pijat aromatherapy, hingga akupunktur.

Saat ini, pengawasan pada penyelenggaraan praktik terapi komplementer di masyarakat baru berupa pendaftaran saja oleh pemerintah daerah. Bahkan, dari hasil penelusuran terbaru oleh dinas kesehatan di berbagai daerah, banyak sarana/tenaga terapi komplementer tidak terdaftar di dinas kesehatan setempat, sehingga hal ini sangat dikhawatirkan banyak merebak pengobatan palsu yang berkedok terapi kompelementer/ alternatif yang dijalankan oleh tenaga yang tidak berkompeten, yang pada akhirnya dapat membahayakan masyarakat.

Saya yakin, dengan menjamurnya terapi komplementer di masyarakat, di waktu mendatang Pemerintah akan mengeluarkan standarisasi, pengaturan, dan pengawasan yang lebih gamblang dan baku yang memuat perlindungan hukum bagi masyarakat, termasuk tentang standarisasi tenaga pelaksana dan pendidikan yang harus ditempuh sebagai syarat dalam menyelenggarakan terapi komplementer.

Oleh karena itu, perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan di Indonesia harus segera melakukan jemput bola agar dapat berperan dalam penyelenggaraan terapi ini. Terutama pada institusi pendidikan keperawatan harus jeli dalam menangkap peluang yang terdapat dalam isu etik terapi komplementer ini dengan mengakomodir dalam pembelajaran (setelah melalui standarisasi kurikulum pendidikan keperawatan terpadu) serta sebagai bahan kajian diskusi ilmiah dan penelitian berkelanjutan dengan didukung pula upaya- upaya strategis oleh organisasi profesi. Diharapkan, dalam praktik terapi komplementer ini nantinya perawat tidak masuk lagi dalam zona abu- abu (seperti pada praktik klinik mandiri) namun dapat memberikan warna yang tegas dalam dunia profesi keperawatan. Semoga.

***Penulis adalah Koordinator Forkom Alumni Muda Poltekkes Prodi Keperawatan Semarang, Perawat, bekerja di KKP Kelas II Semarang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share to Google Plus

Comments

comments

Top
Pinterest

Fatal error: Allowed memory size of 41943040 bytes exhausted (tried to allocate 103384 bytes) in /hermes/bosoraweb132/b1582/ipg.indonesiannursingt1/wp-includes/functions.php on line 2935