SKP BISNIS BARU GAYA LAMA

By Syaifoel Hardy Dua hari lalu, saya kaget, melihat sebuah proposal pelatihan K3, untuk perawat, nilai Satuan Kredit Partisipasinya (SKP) hanya 2 point. Padahal, pelatihan ini berlangsung selama 6 hari. Tapi, saya More »

10 ALASAN OGAH BAHASA INGGRIS

By Syaifoel Hardy 1. 350 tahun dijajah Belanda 2. Dua setengah tahun, dibawah Jepang 3. Sesudah itu, ‘dijajah’ Orde Lama, Orde Baru, kemudian Reformasi, semuanya berbahasa satu Bahasa Indonesia 4. Tensesnya jlimet, More »

WHAT IS NEXT?

By Syaifoel Hardy Tidak gampang menyusun masa depan. Menempuh sebuah pendidikan misalnya, tidak bisa asal milih. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab sebelum menentukan, akan sekolah di mana dan sesudah itu ke More »

SAINGAN PROFESIONAL

By Syaifoel Hardy Dulu, saat bekerja di sebuah rumah sakit umum di Pasuruan, kerja sendirian, itu biasa. Merangkap di sana-sini. Kalau kualitas output, jangan ditanya. Karena, bukan itu tujuannya. Yang penting, ada More »

LANGKAH MEGAH MERAIH JAWARA

By Syaifoel Hardy Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, beliau ingin umatnya, semua bahagia. Semuanya, masuk surga. Semua umat berhak meraih prestasi dengan predikat jawara. Makanya, saya setuju, tidak ada sekolah di mana More »

 

‘Gelar’ Ners: Sebuah Kritisi

kritik gelar ners

INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | by Syaifoel Hardy & Nurhadi Amin

Latar Belakang

Menengok sejarah dunia nursing secara umum pastilah akan dihubungkan dengan tokoh Florence Nightingale (FN) di abad ke 19, sekalipun di Islam telah berkembang dan mengenal nursing pada abad ke 7 jauh sebelum FN dikenal (Grippando & Mitchell, 1989). Nurses pada saat itu, meski tanpa embel-embel gelar, telah diakui sumbangan ilmiahnya dalam masyarakat. Kemajuan yang diperoleh adalah berkat ketekunan para tokoh tersebut untuk selalu melakukan perbaikan melalui proses riset dan cara pembelajaran ilmiah.

Proses riset yang kuntinyu tersebut membuahkan dunia profesi nursing terus berkembang, seiring dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi lainnya, meskipun tidak sepesat profesi kesehatan lain, misalnya kedokteran. Dari segi disiplin ilmu, profesi ini pun telah memasuki jenjang sub spesialis. Untuk mendukung kemajuan tersebut, metode riset dan critical thinking sudah menjadi bagian dari pola pendidikan nursing.

Profesi nursing di Indonesia yang tergolong masih muda dibandingkan dengan di negara Barat memang tertinggal jauh. Bahkan di antara negara-negara Asia sekalipun. Meskipun demikian, geliat perubahan yang dimulai sejak dua dasawarsa terakhir di Tanah Air merupakan upaya positif yang sudah pasti memerlukan dukungan semua pihak. Meski yang lebih penting adalah dukungan pemikiran-pemikiran kritis terutama dari nurses itu sendiri.

Pola pikir kritis ini merupakan tindakan yang mendasari evidence-based practice dunia nursing yang memerlukan proses pembuktian sebagaimana proses riset ilmiah. Pola pikir tersebut bukan berarti mengharuskan setiap individu menjadi peneliti/researcher. Sebaliknya, sebagai landasan dalam praktek nursing sehari-hari.

Dengan demikian kemampuan merefleksikan kenyataan praktis lapangan dengan dasar ilmu nursing ataupun disiplin ilmu lainnya, baik dalam nursing proses kepada pasien ataupun dalam melaksanakan program pendidikan nursing, sudah seharusnya menyatu dalam intelektualitas nurses. Termasuk bagaimana menyikapi penggunaan istilah “Ners”.

Pemakaian istilah “Ners” sebagai bentuk “penghargaan” sesudah pencapaian jenjang pendidikan S1 merupakan issue yang perlu kita kritisi. Kita sebut sebagai issue, karena peletakannya sebagai suatu gelar bagi sebuah profesi bisa menuai perdebatan. Tinjauan literatur pemakaian istilah yang ‘menyabot’ dari Bahasa Inggris: ‘Nurse’, kemudian ‘diplesetkan’ jadi ‘Ners’, yang sebenarnya memang sebuah profesi, bukan gelar, adalah persoalan pertama. Yang kedua, penggunaan istilah ‘Ners’ ditinjau dari kacamata internationalisation. Dan yang ketiga legitimasi pemakaian gelar Ners.

Ketiga hal tersebut menjadi fokus essay ini. Tanpa bermaksud mengurangi nilai arti sebuah kelanjutan pendidikan profesi yang sudah tentu sangat Penulis dukung, tujuan artikel ini tidak lain adalah mengajak nurses, untuk selalu berpikir kritis, agar implementasi dunia nursing sebagai disiplin ilmu, mengedepankan evidence, bukan semata-mata slogan.

Analisa

Sejauh ini, lulusan S1 Keperawatan di Indonesia dikenal sebagai penyandang gelar Sarjana keperawatan (SKep). Program ini kemudian menambahkan gelar profesi nursing yang disebut Ners, sesudah menempuh sejumlah sistem kredit semester dalam studinya. Apakah gelar tersebut merupakan gelar akademik, gelar profesional ataukah predikat lainnya semisal Registered Nurse (RN)? Di bawah ini analisanya.

1. Etimologi
Menurut Wikipedia (Online, 2007), kata nurse yang diucapkan: /ners/ (Webster, Ninth Collegiate Dictionary, 1993), berasal dari Bahasa Inggris, Bahasa Perancis nourice, dan Bahasa Latin nutricia, berarti: person that nourishes, is a health care professional who is engaged in the practice of nursing.

Dari definisi tersebut berarti bahwa untuk menjadi nurse yang profesional memerlukan pendidikan tertentu. Sesudah menyelesaikan pendidikan, kemudian mempraktikkan hasil pengetahuan dan ketrampilannya. Dari definisi tersebut juga sudah jelas, sekalipun tanpa gelar ners, nurse sendiri sudah profesional.

Perbendaharaan kata dalam kamus Bahasa Indonesia, dalam sejarahnya banyak sekali menyerap dari bahasa asing dalam bidang ilmu pengetahuan. Kata-kata seperti: ilmu, jadwal, miskin, awal, akhir misalnya, berasal dari bahasa Arab. Biologi (biology), matematika (mathematics), geologi (geology), geografi (geography), etika (ethics) dari Bahasa Inggris. Purnama, mega, sempurna, gerhana, eka, samudera (Bahasa Sansekerta), dan lain-lain. Kata-kata tersebut, kini sudah tidak asing kedengaran di telinga dan kita manfaatkan dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata tersebut sepanjang tidak ada padanan yang pas, mengalami asimilasi sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.

Kaidah Bahasa Indonesia, namun demikian, tidak mengenal konsonan rangkap, kecuali istilah asing yang diindonesiakan, misalnya kata exponent menjadi eskponen; science menjadi sains, climax menjadi klimaks.

Berangkat dari sinilah, tidak tertutup kemungkinan bahwa kata ‘nurse’ kemudian diasimilasikan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ners. Tetapi, apakah ini tidak menyalahi aturan? Karena kata nurse tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan kata modern yang dalam Bahasa Indonesia menjadi moderen, mendapat sisipan /e/ .

Di samping itu, kata moderen sudah mendapatkan definisi yang baku dalam kamus kita, yang berarti ‘mutakhir atau baru’ (http://www.kamus-online.com/). Sedangkan ners tidak demikian halnya. Kata ners belum menjadi perbendaharaan kata yang baku dalam kamus kita, apakah itu kata benda, kata kerja ataukah istilah. Berbeda juga dengan kata perawat yang dari segi etimologi, kata ners tidak berdasar dan terkesan mengada-ada.

2. Internationalisasi
Dalam kamus-kamus internasional disebutkan bahwa sebutan nurse ini bukanlah sebuah gelar, melainkan profesi (Webster, Ninth Collegiate Dictionary, 1993; Webster, Newworld Dictionary, 2000; Oxford Advanced Learner, Dictionary, 2000) yang berarti: a person who is trained or skilled in caring for the sick. Demikian pula yang sebutkan dalam kamus Inggris-Indonesia (Echols J.M. & Shadily, H. 1975, Kamus Inggris Indonesia). Dalam kamus-kamus tersebut nurse bisa berarti pula kata kerja.

Akan halnya gelar yang menyertai seorang nurse, di Amerika Serikat Registered Nurse (RN) terpisah dari gelar akademik. Gelar profesi RN tidak dikeluarkan oleh sekolah tinggi atau universitas dari mana perawat tersebut ditempa pendidikannya. RN dikeluarkan oleh sebuah komite tertentu yang disebut N-CLEX (National Committee on Licensure Examination). Di Filipina sebutan RN juga dikeluarkan oleh Nursing Board sesudah menjalani test. Di Inggris RGN demikian juga. Tidak terkecuali pula di negara-negara seperti Belanda, India, Singapore dan lain-lain. ‘Gelar’ RN tidak dikeluarkan oleh lembaga pendidikan di mana yang bersangkutan belajar, melainkan oleh lembaga profesional independen.

Gelar Ners di Indonesia diberikan bersamaan dengan gelar akademik oleh lembaga pendidikan yang menelorkan sarjana. Padahal, keduanya ini mestinya terpisah ditinjau dari pemanfaatan di dunia internasional. Lembaga pendidikan S1 Keperawatan saat ini banyak yang menelorkan ‘Dual Degrees’ yang di dunia internasional pendidikan nursing tidak dikenal. Gelar ners dalam percaturan nursing internasional bisa membingungkan.

3. Legitimasi
Dari sisi aturan perundangan, menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No: 178/U/2001 tentang ‘Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi’ tidak menyiratkan sedikitpun tentang pemakaian Ners untuk gelar akademik maupun profesional. Dalam Bab III : Jenis Gelar Akademik Pasal 6 menyebutkan, bahwa: “Gelar akademik terdiri atas Sarjana, Magister dan Doktor”.

Dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 7: “Penggunaan gelar Sarjana dan Magister ditempatkan di belakang nama yang berhak atas gelar yang bersangkutan dengan mencantumkan huruf S., untuk Sarjana dan huruf M., untuk Magister disertai singkatan nama kelompok bidang keahlian”. Jadi bagi penyandang sarjana keperawatan, kita bisa saja gunakan SKp atau SKep tidak ‘masalah’, tergantung ‘kesepakatan’ pihak pengambil kebijakan.

Sedangkan dalam Bab IV: Jenis Sebutan Profesional Pasal 11 ayat (1) disebutkan bahwa sebutan profesional lulusan Program Diploma terdiri atas:
i. Ahli Pratama untuk Program Diploma I disingkat A.P.
ii. Ahli Muda untuk Program Diploma II disingkat A. Ma.
iii. Ahli Madya untuk Program Diploma III disingkat A. Md.iv. Sarjana Sains Terapan untuk Program Diploma IV disingkat SST.

Gelar profesi Ners di Indonesia diberikan bersamaan dengan gelar akademik. Di Diknas, penggunaan gelar sudah diatur sebagaimana tersebut diatas. Masalahnya, mengapa policy ini hanya berlaku pada S1 Keperawatan? Memperoleh gelar akademik sekaligus profesi. Profesional lain di program kesehatan misalnya Kedokteran, Gizi atau Kesehatan Masyarakat, apalagi non-kesehatan, tidak mendapatkan perlakuan serupa: double degrees. Di kedokteran sudah jelas, programnya ‘baku’! Mereka yang tidak mengambil profesi, otomatis tidak akan bergelar ‘dokter’. Apakah di nursing profesion harus mengikuti sistem serupa?

Walaupun dalam SK Mendiknas Nomer 178/U/2001, Pasal 21, Ayat 3, menyebutkan bahwa “Gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan/atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan/atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri”, itu bukan berarti bahwa kita tidak memiliki “keleluasaan” untuk berkaca kepada percaturan sistem pendidikan nursing internasional. Karena, dalam Fungsi dan Tujuan diselenggarakannya pendidikan tinggi sebagaimana disebutkan dalam Rancangan PP (pasal 51) tentang Pengelolaan dan Penyelenggraan Pendidikan adalah: mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (www.depdiknas.go.id).

Maka, sebagai profesi yang berwawasan internasional, watak serta peradaban nurses kita akan diakui oleh dunia internasional, jika mampu bergaul dalam percaturan nursing yang mengacu pada standard internasional. Dunia internasional mengakui profesi kedokteran kita dengan gelar dr, mengakui sarjana kita: engineer, mengakui ahli gizi: nutritionist. Namun siapa yang mengenal ‘Ners’?

4. Registrasi dan Spesialisasi
Sudah seharusnya jika lulusan pendidikan nursing setingkat sarjana akan lebih memiliki bobot, dari segi penguasaan ilmu nursing yang bisa dipadukan dengan disiplin ilmu lainnya. Menjamurnya program pendidikan Strata 1 Keperawatan di seluruh Indonesia berarti akan semakin banyak nurses setingkat sarjana.

Dalam kenyataan sehari-hari dominasi dunia kedokteran dalam bidang kesehatan memang masih besar sekali (Germov, 1998). Jika dilihat dari sejarah pendirian maupun dari susunan personel lembaga pendidikan nursing di Indonesia, peran profesi kesehatan lain masih sangat dominan. Hal ini berbeda dengan di negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, juga di India ataupun Philippines, di mana faculty of nursing nya independen (Bridget Hospital School of Nursing, San Juan College, Regents College Nursing, Cheridan College Nursing Program, dll); atau di bawah Faculty of Sciences (Department of Nursing University of Southern Queensland; Department of Nursing of the University of the Philippines, dll). Kenyataan inilah yang menjadi kendala kita. Dari daerah hingga di tingkat pusat, di mana kita tidak memiliki kemandirian di bawah Departemen Kesehatan (depkes.2007, Online).

Berbicara masalah jenjang profesi dan karir, tidak bisa dilepaskan dari dua tinjauan yang mendasar yaitu tinjauan akademik dan tinjauan profesional.
Berdasarkan tinjauan akademik, di negara-negara yang dicontohkan di atas, jenjang pendidikannya dibagi tiga kelompok yaitu undergraduate, post graduate dan doctorate. Undergraduate yaitu jenjang pendidikan Strata 1 dengan gelar BSN/BN atau di bawahnya, post graduate setara dengan Strata 2 dengan gelar MSN/MN, dan doctorate dengan gelar DSN/DN.

Masing-masing strata memiliki sistem pendidikan, gelar serta peran dan tanggungjawab terhadap profesi yang sudah baku dan jelas. Misalnya, untuk program diploma selama perkuliahannnya yang ditempuh antara 2 – 3 tahun, tidak mendapatkan mata kuliah riset sebagai indikator jenjang yang lebih tinggi ataupun kalau dapat hanyalah sekedar pengantar riset. Lulusannya memang tidak dituntut untuk menjadi peneliti. Tetapi paling tidak bisa ikut andil dalam membantu proses riset atau mengerti pemakaian hasil riset.

Dari tinjauan profesional, nurses bisa dikatakan profesional jika memiliki bukti registrasi yang mengontrol kompetensi nurses (Germov, 1998). Dengan sistem registrasi yang baku memungkinkan pengawasan terhadap kemampuan nurses, sehingga senantiasa sesuai dengan perkembangan ilmu nursing yang terbaru sebagai persyaratan untuk mendapatkan registrasi. Jenjang spesialisasi bagi nurses bisa ditempuh, tanpa memandang latar belakang akademik, apakah itu Diploma, BSN, atau MN.

Di Australia, India, Philippines, Amerika, Inggris, New Zealand serta negara Barat lainnya, pemberian gelar RN merupakan pengakuan yang berkekuatan hukum terhadap kompetensi profesi yang diberikan oleh Nursing Board/Nursing Council (Edginton, 1995). Nursing Board dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (Department of Education, Science and Training (DEST)-Australia, 2003, online) dan di bawah kontrol Menteri Kesehatan (Edginton, 1995).

Untuk memperoleh predikat RN, nurses harus memenuhi beberapa persyaratan. Di beberapa negara aturannya lebih ketat dengan menyaratkan harus mengikuti ujian registrasi seperti di AS dengan NCLEX-RN nya atau di Philippine dengan Registration Examination. Di Inggris menyaratkan pelaksanakan praktik nursing selama lima tahun terakhir, dan bila sudah teregistrasi pun harus selalu meng-up date ilmu setiap dua tahun sekali yang jika tidak terpenuhi status registrasinya bisa dicabut (NMC, 2007).

Registrasi tersebut memiliki nomer dan masa berlaku yang ditentukan oleh Nursing Board. Sistem registrasi memiliki pengaruh terhadap status pekerjaannya di mana setiap individu untuk bisa bekerja sebagai nurses harus memiliki bukti registrasi tersebut. Jika dia bekerja tanpa memiliki bukti register tersebut bisa dianggap sebagai melanggar hukum (Edginton, 1995).

Peningkatan profesi lain, selain dalam bentuk RN, bisa juga berupa misalnya: CRNA (Certified Registered Nurse Anaesthetist) untuk nurse anastesi, CRNP (Certified Registered Nurse Practitioner) untuk Nurse Practitioner, CNOR (Certified Nurse of Operating Room) untuk nurse kamar operasi , dsb.
Jadi, seorang nurse memungkinkan untuk memiliki gelar RN, CNOR dll di belakang namanya, bukan hanya karena telah merampungkan jenjang pendidikan tertentu dan dalam masa tertentu saja. Namun juga melalui test/seleksi yang diselenggarakan oleh badan registrasi serta memiliki dasar hukum yang jelas.

Bagi penyandang Strata 2, gelarnya adalah MSN (Master of Science of Nursing) dan diikuti dengan gelar spesialisasi tersebut di atas, misalnya MSN, CRNP tanpa harus mencantumkan gelar BSN karena gelar MSN tersebut lebih tinggi stratanya, kecuali jika gelar masternya adalah di luar disiplin ilmu keperawatan, maka gelar BSN nya tetap dicantumkan (Untuk aturan di Indonesia, lihat SK Mendiknas).

Sedangkan Inggris dan negara-negara yang berafiliasi dengannya seperti India, Pakistan, beberapa negara Arab dan Afrika, serta Australia, menggunakan pola yang sama dengan Amerika, hanya saja tanpa huruf S untuk gelar BSN dan MSN nya. Jadi, gelar yang dipakai hanya BN atau MN. Sedang gelar spesialisasinya akan ditulis di dalam kurung mengikuti gelar utamanya. Misal MN (Adv Prac) untuk gelar Master of Nursing spesialis Advance Practice; MN (Edu) untuk Master Nursing dengan spesialis Education, dsb.

Berdasarkan dari apa dan bagaimana penempatan RN serta gelar spesialisasi di atas, maka pemakaian ‘gelar’ Ners semakin susah untuk ditempatkan. Jika dipakai sebagai gelar registered tidak pas lantaran lembaga yang mengeluarkannya. Demikian pula, bila dipakai untuk gelar spesialisasi, Ners tidak mengindikasikan spesialisasi tertentu.

Tren Globalisasi

Tahun 2010 lalu adalah awal era globalisasi, pasar terbuka. Tren globalisasi tidak mengenal batas negara memiliki pengaruh yang luas di segala bidang. Tenaga kerja asing, termasuk nurses, juga mulai merambat bursa tenaga kerja Indonesia yang harus bersaing dengan nurses, di tingkat lokal (misalnya di perusahaan asing, pertambangan, RS internasional, tenaga kerja nurses nya, multinational).

Di dunia pendidikan, kerja sama antar perguruan tinggi antar negara, merupakan salah satu kiat untuk mengahadapi tren di atas. Kerjasama antara Stikes Binawan dan Universitas Indonesia dengan University of Technology Sydney untuk program PSIK (Buletin of Central Sydney Area Mental Health, 2007, online) merupakan contoh inovatif yang bisa ditiru. Tujuan program-program internasionalisasi ini tidak lain supaya mendapatkan pengakuan di mata internasional, baik dari segi pengetahuan maupun ketrampilan.

Diperkirakan lebih dari 4000 tenaga nurses kita di negara-negara Timur Tengah, dan sejumlah kecil di Eropa, Australia, Jepang dan Amerika serta di negara tetangga Malaysia dan Brunei. Bedanya, status nurses kita yang di luar negeri dengan foreign nurses yang ada di negeri kita adalah, jika nurses asing yang masuk ke negara kita tersebut memiliki pos yang tinggi, sedangkan nurses kita yang ada di negara asing mayoritas masih menduduki peringkat kelas bawah sekalipun dia adalah lulusan S1 (Dian S, Pers. Comm, 2007).

Fenomena di atas menunjukkan, bahwa keberadaan dan status nurses kita memang masih belum bisa disejajarkan dengan negara-negara lain. Salah satu penyebabnya adalah, kita belum memiliki sistem pengaturan profesi yang baku. Nursing council/board yang berskala nasional belum eksis di Indonesia. Secara umum, tugas nursing council ini menangani legalitas kompetensi profesi nurses di Indonesia yang dikemas dalam bentuk registrasi.

Menurut Germov (1998), syarat bisa dikatakan profesi adalah jika memiliki otonomi sendiri untuk mengatur standar tugas dan tanggungjawabnya, statusnya dan sistem keuangannya menurut badan profesi yang diakui secara nasional ataupun internasional. Di sinilah Nursing Board/Council kembali berperan. Sedangkan badan tersebut belum kita miliki.

Keberadaan Persatuan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) belum bisa dikatakan sebagai Nursing Board. Sebaliknya, PPNI hanya merupakan organisasi profesi yang memiliki fungsi sebagai wadah profesi nursing yang memiliki persamaan kehendak sesuai dengan jenis/profesi dan lingkungan kerja untuk mencapai tujuan organisasi (PPNI, 2012, Online).


Rekomendasi

Dalam buku karya Kenworthy, Snowley, dan Gilling (2002) berjudul Common Foundation Studies in Nursing, konsep nursing itu dibangun dari empat unsur yaitu client, health, environment, serta nursing. Dari keempat unsur ini para peneliti kemudian mengembangkan, sehingga muncul berbagai macam teori nursing. Di antara teori-teori yang baru tersebut, yang paling penting adalah peletakan konsep di tengah-tengah disiplin ilmu yang lain sebagai suatu evidence-based practice, sebuah disiplin ilmu yang berdasar kepada bukti-bukti ilmiah, bukan semata-mata turunan, atau tiruan dari disiplin ilmu yang lain.

Penggunaan istilah Ners di Indonesia, dari uraian diatas, pada hemat penulis perlu dicermati kembali. ‘Gelar’ Ners perlu mendapatkan perhatian, jika masih terlalu ‘ekstrim’ untuk dikatakan koreksi. Dari berbagai tinjauan di atas juga membuktikan, baik dari segi akademik, profesi maupun segi hukum, kurang mendukung penerapannya.

Sebagai sebuah cabang profesi, nursing membutuhkan dasar pendidikan yang layak. Pendidikan ini membutuhkan dukungan teori serta praktik. Berbagai referensi mengemukakan teori dan parktik yang amat bervariasi. Teori-teori tersebut diajarkan di berbagai perguruan tinggi yang di dalamnya terdapat independensi (USQ-Australia, New Castle University-Australia, Regent- College of Nursing-USA, dll), bukan di bawah payung fakultas kesehatan lain. Perguruan tinggi ini menawarkan beberapa program pendidikan nursing, mulai dari Associate Degree hingga Post Graduate of Nursing.

Meski demikian, pemberian gelar profesional (RN) terhadap para lulusan perguruan tinggi di berbagai negara tersebut tidak dikeluarkan oleh universitas yang meluluskan, namun oleh Nursing Council / Nursing Board.
Pemberian gelar registered nurse, tidak perlu didiskriminasikan, apalagi oleh lembaga pendidikan. Sebaliknya, terlepas dari apakah itu lulusan diploma, sarjana, atau pasca sarjana, mereka berhak mengajukan perolehan registrasi pada sebuah lembaga independen yang mengurusinya.

Di negeri kita, kalau hanya lulusan S1 yang berhak mendapatkan gelar profesi Ners, apakah lulusan diploma 3 tidak berhak mendapatkan gelar profesi serupa, hanya karena tingkat pendidikannya yang satu level di bawahnya?

Oleh sebab itu, prinsip yang sama bisa diterapkan di Indonesia. Mengusulkan kepada Pemerintah lewat Departemen Kesehatan untuk membentuk Nursing Council yang sudah mendesak kebutuhannya. Nursing council ini tidak menutup kemungkinannya bisa dibentuk secara independen. Sudah waktunya pula PPNI, sebagai satu-satunya organisasi nursing, mewujudkan impian anggotanya.


Kesimpulan

Uraian diatas membuktikan bahwa gelar Ners tidak bisa disejajarkan dengan RN sebagaimana yang ada di luar negeri semisal AS atau RGN di Inggris, khususnya jika ditinjau dari aspek akademik, aturan peletakan gelar serta pengakuan hukum.

Hanya saja, sebagian besar warga profesi kita sudah terlanjur terbiasa, ikut-ikutan (latah) tanpa berpikir kritis terhadap segala konsekuensinya. Tidak terkecuali menyikapi pemakaian gelar. Gelar Ners begitu saja ditelan tanpa mempertimbangkan apakah tepat atau tidak penggunaannya.

Dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV, pada 7 Juni 2004, pakar ekonomi dari Harvard University, Hartojo Wignjowijoto (Husaini, 2004, online), menyatakan, “Problem mendasar bangsa Indonesia adalah “tidak memiliki kepercayaan diri” dan “tidak mau kerja keras”. Tidak percaya diri, malas bekerja, malas belajar, malas mencari ilmu, mau dapat gelar tanpa bekerja keras merupakan kendala besar kita.

Lihatlah, begitu banyaknya program yang menawarkan gelar magister, doktor, dari berbagai institusi pendidikan, tetapi tidak memperhatikan kualitas penerima gelar. Sekarang, sudah sampai di kampung-kampung, orang menawarkan program mudah untuk mendapatkan gelar magister atau doktor.”

Akankah kita sebagai nurses, mau disejajarkan dengan kelompok tersebut? Sudah tentu tidak! Hanya saja hal ini perlu bukti. Setidaknya, gelar profesional ini tidak hanya slogan yang ada di belakang nama penyandangnya. Tanpa Ners pun, melalui pola kerja kita yang kompeten, klien akan tahu, bahwa profesional yang ada di sampingnya bukan seperti yang disebutkan oleh pakar ekonomi dari Harvard di atas.

Email:
Syaifoel Hardy: hardy.syaifoel@yahoo.com
Nurhadi: nurhadiamin@gmail.com

References:

BIHS, n.d., Nursing study program: introduction, Academic Information, [Online], Available from URL: http://www.binawan-ihs.ac.id/educationinfo.html, Accessed on 29/06/2004

Buletin of Central Sydney Area Mental Health, 2003, Nursing Curriculum Development with Binawan Institute, University of Indonesia and University of Technology Sydney (UTS), [Online], available from URL: http://www.cs.nsw.gov.au/mhealth/bulletins/binawanindonesia.htm, Accessed on 29/06/2004.DEST – Australia, 2003,

Nursing legislation and regulation

National Review of Nursing Education , [Online], available from URL: http://www.dest.gov.au/highered/nursing/pubs/duty_of_care/doc5.html, Accessed on 04/10/2003.

Departeken Kesehatan RI, 2007, Domain Depkes, Online, Available at URL http://www.depkes.go.id/, [Accessed on 20 June 2007].

Dikti, 2003, Daftar Program Studi Yang Telah Terakreditasi s/d 2003, [Online], Available from URL: http://www.dikti.org/, accessed on 26 June 2004.

Edginton, J., 1995, Nurses registration, Law for the Nursing Profession and Allied Health Care Professionals, 3rd edn., CCH Aust. Ltd, North Ryde, ch. 5.

Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran, 2002, Profil program studi ilmu keperawatan, Program Study Ilmu Keperawatan, [Online], Available from URL: http://www.fk.unpad.ac.id/jsp/profil-keperawatan-profil.jsp/, Accessed on 26/06/2004.

Germov, J. 1998, Challenges to medical dominance, Second Opinion: An Inroduction to Health Sociology, ed. J. Germov, Oxford, Melbourne pp. 230-48.

Gripando, G.M. & Mitchell, P.R., 1989, Nursing Perspectives and Issues, 4th edn., Delmar Publishers Inc., New York, pp. 23.

Husaini, A., 2004, Opini, [Online], available from URL://httpwww.hidayatullah.com/ modules.php?name=News&file=article&sid=1237, accessed on 26 June 2004.

Kenworthy, N., Snowley, G., Gilling, C., 2002, The context of practice, Common Foundation Studies in Nursing, 3rd edn, Churchill Livingstone, Edinburgh, pp. 42-75.

Maslen, G., 2000, Graduates pocket the benefits of study, Campuss Review, Jun 14-20, p. 4.

NMC, 2007, Home page UKCC, [Online], Available from URL: http://www.nmc/- uk.org. [Accessed on 30/05/2007].

PPNI, 2007, Home page PPNI, [Online], available from URL: http://www.ppni.itgo.com/, Accessed on 30/05/2007.

West, W., 2000,Do degrees put money in the bank?, Campuss Review, pp. 19-20.

Komentar-komentar di Forum INT FB:

  • Abuya Lelik Kali ini saya WAJIB memberikan DUA JEMPOL utk artikel di atas …
  • Sy Sany sangat mengena, dan memang perlu ditinjau kembali penggunanaan kata “ners”. terima kasih
  • Study Nursing Di Indonesia sdh ada Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mereka berusaha untuk memberikan Registrasi kepada Perawat, apakah ini juga bisa, sementara ini, karena tidak adanya konsil, untuk memberikan sertifikasi RN bagi Perawat Indonesia?
  • Syaifoel Hardy BNSP sangat jeneral sifatnya, sementara nursing sudah spesifik! Maknanya jadi kabur! Study Nursing
  • Study Nursing seperti halnya lembaga2 pemerintah yang lain, BNSP walaupun dibawah kemenakertrans, pastinya memiliki sub spesialis dari masing2 profesi… apakah konsil merupakan harga mutlak?
  • Syaifoel Hardy Yang te[at adalah Nursing counsel....seperti di negara2 lain...kita susahnya, memang suka mengada-ada...bikin sendiri aturan tanpa merujuk apa yg terjadi di bagian dunia lain.
    Friday at 7:41am · Like · 1
  • Syaifoel Hardy akibatnya, nurses kita yang mau kerja atau sekolah di luar negeri, kadang kerepotan….
  • Ranz Purnama Lahardi mantap pak ulasannya…acungin semua jempol yang ada…kalo bisa pinjam jempol nya tetangga..heee
  • Abuya Lelik APAKAH Nursing Board / Nursing Council HARUS memakai payung Undang-Undang ?
    kalau saya baca artikel di atas di negara lain (amerika) hanya memakai Peraturan Pemerintah (di bawah Undang2) .. mohon pencerahan wawasan ..
  • Syaifoel Hardy Gimana nih teman2 dosen lain….biar fair pandangannya, jangan hanya dari saya, termasuk rekan2 PPNI, juga yang mengusung RUU Keperawatan. Mohon sharing pendapatnya, agar pertanyaan yg diajukan pak Abuya Lelik terjawab! Thnx!
  • Study Nursing Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, apakah mereka juga bisa dibilang sebagai Konsil?
    karena mereka yang mengeluarkan STR bagi Tenaga Kesehatan di Indonesia….
  • Syaifoel Hardy Ini yang membedakan. Saya copy paste dari sebuah website: The Nursing Council is responsible to the Administrator and the Governing Board for the process and outcome of all issues related to the Standards of Nursing Practice, education, and quality of nursing care (http://www.3gsoftwarellc.com/HCMH/Role,_Definition_and_Function_of_the_Nursing_Council.htm). MTKI, kewenangannya, sekali lagi, teralu luas. Cenderung ‘mengecilkan’ peran nurses.

    www.3gsoftwarellc.com

    The following are guidelines that define the scope of the Nursing Council and it…See More
  • Putu Basangalas Sebuah karya yang luar biasa Pak. Cuma kalo melihat isi tulisan dan analisanya, saya berharap tulisan ini bisa dipublikasi di jurnal akademik biar bisa menjadi wacana publik yg lebih luas. Saran saya coba hubungi beberapa jurnal keperawatan ilmiah di Indonesia dan wacanakan untuk di publikasi. Saya yakin pembacanya akan banyak dan menuai banyak jempolers but at the same time akan banyak kritikan juga karena isi dari tulisan ini memang sebuah kritik terhadap situasi yg sedang berkembang.
  • Syaifoel Hardy Thnx atas sarannya pak Putu Basangalas….biarlah saya cukup puas di belakang layar aja…meski sesekali ingin utak-atik seni menulis agar bs diterima dari kalangan akademik…..sy yakin tulisan ini akan ‘menuai badai’. Itu biasa, sebagai dampak setiap karya! As always, my best regards!
  • Putu Basangalas perlu barangkali saya tambahkan bahwa dari sejak awal dibuatnya program ners, tidak ada indikasi bahwa itu setara dengan RN yang sudah berkembang di LN. Itu sebuah standard yg berbeda. Jika kita telaah kembali ke peraturan ttg program akademik dan profesi, kedua-duanya punya aturan khusus. Saya sendiri tidak pernah terfikir untuk mengkritisi sebutas “ners” bagi profesi kita. Itu menunrut pendapat saya pribadi syah-syah saja yang penting definisinya jelas. Akan tetapi memang di satu sisi ini akan menuai perbedaan dengan sistem pendidikan keperawatan di negara lain. Cuma sampai saat ini saya tidak pernah menemukan negara lain yang memberlakukan sistem pendidikan akademik dan profesi untuk keperawatan dengan negara lain. Please correct me if I am wrong.
  • Putu Basangalas Satu hal lagi bahwa ijin untuk menyelenggarakan program akademik dan profesi itu berbeda. Dua-duanya punya ijin khusus.
  • Syaifoel Hardy di negeri ini seolah-olah memang ada kecenderungan, sepanjang segala sesuatu bisa dibikin ‘sulit’ mengapa mesti ‘dipermudah’?
  • Putu Basangalas Pak Syaifoel Hardy. Saya adalah orang pendidikan. Terkadang kalo kita berkaca pada diri sendiri, yang kelihatan hanya baiknya di kaca. Perlu telaah orang lain untuk melihat diri kita. Maksud saya adalah diperlukan orang di luar lingkaran pendidikan,seperti Pak Syaifoel untuk memberikan kritik pedas terhadap sistem pendidikan kita. Saya di berbagai kesempatan sudah mencoba menelaah dan melontarkan pendapat pribadi bahwa pendidikan keperawatan kita (yang 5 tahun untuk S1) perlu dibenahi. KEmbalikan saja ke pertanyaan dasar, apakah memang diperlukan seperti itu. Saya sendiri adalah produk S1 keperawatan 4 tahun, yg menurut saya itu lebih efisien terutama dari kaca mata ekonomi. Perlu juga diketahui bahwa semestinya pegawai yang bergealr ners seharusnya bergolongan 3B (kalo gak salah), bukan 3A di sistem kepangkatan PNS. Namun sampai sekarang (sepengetahuan saya), gelar ners ini belum diakui oleh civil policy kita. artinya sama saja dengan yang bergelar bukan ners. this is another homework.
  • Syaifoel Hardy Saya setuju dng pendapat pak Putu Basangalas, bahwa impact dari sebuah pendidikan harus dipikirkan secara paripurna. Termasuk perolehan financial benefit. Makanya, selalu saya katakan kpd mahasiswa yg ingin mengambil program ‘Ners’ ini, ttg kejelasan tujuan dan keuntungannya. Jika sama saja dengan S1 yg standard, mengapa repot2 nyusahkan orangtua?
  • Putu Basangalas Masalahnya sudah terlanjur basah Pak. Saat ini, jika seorang mahasiswa hanya bergelar SKep, mereka tidak boleh praktik sebagai perawat dalam artian bersentuhan dengan pasien. Seingat saya sudah ada rekomendasi dari Asosiasi Institusi Penyelenggara Ners Indonesia (AIPNI) dan kalo tidak salah juga dari PPNI terkait hal ini. Pada sistem yang ada sekarang ini akan lebih sulit bagi seorang yang hanya bergelar SKep untuk mencari kerja. Saya pribadi dalam hal ini, sekali lagi mengingat sistem sudah berjalan, mengharuskan mahasiswa saya menjalani program Ners. Pepatah tua mengatakan dimana kaki berpijak di situ langit di junjung. Saat ini kaki kita berpijak pada sistem SKep Ners, hingga si langit pun bilang kaya gitu. Kalo cuma SKep doang langitnya tambah mendung, petir bisa tambah kenceng nanti.
  • Syaifoel Hardy Saran: jika kita tidak mampu mengubah sisitem yang ada, minimal harus mampu mengubah diri sendiri. Jika PPNI dan AIPNI adalah dua raksasa yang sulit ditandingi, saya akan menandingi diri sendiri. Ada banyak lapangan kerja dan kesempatan belajar di luar sana yang tanpa menuntut mengantongi predikat ‘Ners’. Benefitnya? Jauh yg kita peroleh di negeri sendiri! Itulah prinsip yang ingin saya tularkan!
  • Heri Cahyo hmmm pelik juga pendidikan di negeri ini… baru tahu ada perbedaan S.Kep dan S.Kep Ners… tapi keknya dari berbagai hal (tidak hanya masalah ini) dunia pendidikan kita -seperti biasanya- UUD = ujung-ujungnya DUIT  -
  • Wisnu Endro Gunawan Tulisan yg luar biasa pak…..kalau boleh saya katakan ini tdk hanya sebuah artikel tapi sudah seperti Tesis atau juornal…pendidikan Keperawatan kita itu emang membingungkan untuk diikuti….dari penamaan aja sudah kacau apalagi masalah standard pendidikan….antara 1 stikes dgn stikes yg lain beda2 standar aturan dan kelulusanya…walau nggak setuju banget tapi apa yg dikatakan pak Heri Cahyo benar adanya.
    Friday at 10:00am via mobile · Like · 3
  • Ranz Purnama Lahardi singkat cerita saya suka bingung kalo ditanya teman2 kerja orang philipine,india, etc ttg pendidikan keperawatan di indonesia,,,,bikin mereka bingung juga kalo sy jelasin..hiiii,,,kebetulan saya kerja di RS farwaniya kwt..dimana perawat indonesia msh jd minoritas disini….
  • Yusuf Wibisono Thanks atas artikel ini Pak Syaifoel Hardy…..Ini menjawab pertanyaan saya 3 tahun yang lalu….pernah juga menulis ini di blog pribadi….Memang embel2 ners ini tidak berfungsi kalo kita melanjutkan kuliah di luar negeri…mereka hanya memerlukan ijazah S.Kep nya…sementara di indo sendiripun juga tidak ditanyakan saat penerimaan pegawai negri dari lulusan sarjana……dan juga tidak menambah angka kredit…..mohon ijin share juga untuk menjawab blog saya pak…
  • Linda Siswati Ini adalah hal pertama yg saya komentari dan saya tanyakan kepada teman-2 saya yg bekerja dan berkecimpung di dunia pendisikan keperawatan sebelum saya mendaftar dan ingin kuliah kembali di tanah air,apa yg diajarka?apa yg dipraktekkan?akankah sama dengan sewaktu praktek di DIII?apakah NERS ini sama dgn register nurse seperti di luar?atau bagaimana?dan biayanya mahal sekali,dan bagaimana dengan saya yg sudah 15 tahun pengalaman kerja apakah harus menempuh selama 14 bulan?alangkah wasting time kalau kita mengulang dan menempuh pendidikan yg pernah kita tempuh hanya utk sebuah gelar yg tidak diakui di dunia international.Tapi apa daya ketika saya ingin berkiprah dan bekerja di Indonesia itulah PRASYARATnya..maka dengan berat hati dan unhappy saya akan mengikuti program tersebut.Bukan karena latah tapi krn itulah the last choice..kalaupun saya ingin melanjutkan ke jenjang kuliah lbh tinggi,prasaratnya harus NERS…Indonesiaku…Indonesiaku..kapan kita akan lbh maju???
  • Darmawan Arief Prasojo ners,,,,,itu hanya angan2 saja,,,,cukup sampai d3 saja lah,,,,melihat keruwetan pendidikan negara kita,,,gak bakal selesai sampe kapanpun,,,,pesimis memang,,masalah ruu keeperawatan ,,,sampe indonesia merdeka 67 tahun aja gak beres2,,,apalagi pendidikan keperawatan,,yang tidak punya dasar hukum yg kuat!!!
  • Yusuf Wibisono Jangan pesimis gitu mas Darmawan Arief Prasojo…..semua berawal dari keruwetan….mungkin yang ditata adalah bagaiman menata kredit poinnya..kalau yang dari d3 melanjutkan ke s1…mungkin mengambil profesi ners nya lebih pendek dari pada yang jalur reguler atau jalur sma…kalo yang dari jalur sma tidak ada pengambilan profesi atau ners…itu akan semakin memperparah…karena nurse bukan hanya sains tapi harus ada terapan….
  • Dhian Restika Ruwet itu indah mas Darmawan Arief Prasojo,…
  • Aurea Assegaf The one that makes it complicated is our own self. If we decide all together the best way then it should not be complicated. The purpose of all us going into this profession is to help the sick and make them healthy again, maintain the wellness and protect and prevent from diseases. How can you to this??? By educating people that means we should never stop learning. We can attend seminars, work shops, or even continue our education to a higher level. By having more knowledge and experience we can share it with others. Sharing knowledge is a gift that you can share always and of course your reward is endless.
  • Mas Sampeyan gmn dgn D4 keperawatan?
  • Sholahudin Ghozali Salah satu bentuk penjajahan di dunia modern adalah dalam hal pendidikan. Begitu juga dengan yang terjadi di negara dunia ketiga seperti negara2 Asean, negara2 di amerika latin termasuk juga yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah, dimana salah satu sertifikasi ataupun kualifikasi dari sebuah profesi berkiblat kepada negara barat entah itu Eropa, Amerika, Jerman ataupun UK. Sebuah profesi sudah dianggap hebat jika sudah bersertifikasi dari negara2 tersebut. Dan itulah yang sudah banyak terjadi saat ini dimana orang lebih mementingkan Ijazah/certificate daripada kualitas dan skill seseorang. Nampaknya mayoritas dari kita mengAmininya….
  • Imelda Yanti Darius sebenarnya profesi qta mencoba berjuang utk bisa sejajar dg profesi kk qta..yakni kedokteran dimana mrk selesaikan profesi 1 utk bisa dipanggil dokter dan selesaikan profesi 2 utk bisa dipanggil spesialis..masalahnya sejarah pendidikan perawat di indonesia awalnya sdh mengada2…. begitu hebatnya hingga selevel lulusan SMA yg biasanya blm beres ngurusin badan sendiri…eee.. dah dipercaya merawat nyawa seseorg…begitulah kebanggaan sy saat lulus SPK.Tp sy terima saat dikattakan blm bs disebut profesional meski kenyataan di lapangan saaat itu…kmi lulusan SPK lebih terampil dan mahir drpd yg lulus akper saat itu ( maaf…). terbakar semangaat utk sekolah…sekolaah dan sekolah lg krn kk dokter spesialis ada yg nyletuk:” minta bermitra…kok cuma lulusan SMA? Yg namanya mitraa yaa mesti selevel donk!”.. puedess rasanyaa….tp terasa juga..skrang dg pendidikan selevel…aq bisa balik marahin konsulen yg lg rese…he..he…btw..memang banyak yg hrs KITA benahi…..ayo bantu PPNI…bersama KITA BISSSAAAAAA!!
    Friday at 6:01pm via mobile · Like · 1
  • Putu Basangalas Pak Darmawan arief prasojo. Saya mengerti apa yg bapak maksud, tetapi sampai bilang pendidikan keperawatan tidak ada dasar hukum itu menurut saya tidak benar juga. Bagaimana pun kita adalah produk dari pendidikan kita. Kalo tempat kita dididik tidak punya dasar hukum…lah bagemana kita. Apakah ijasah kita tidak ada dasar hukumnya? Saya rasa megkritik boleh seperti yg bapak syaifoel tulis dalam artikel ini, tetapi kritik bapak kalau pendidikan keperawatan kita tidak ada dasar hukumnya saya sangat tidak setuju. Menurut saya pendidikan kita ada dasar hukumnya. Jika ada yg kurang pas, itulah yg harus kita benahi…
    Friday at 8:30pm via mobile · Like · 5
  • Aurea Assegaf In Indonesia there is no D4 program yg ada S1 Keperawatan.
    5 hours ago via  · Like
  • Riduan Aboehurynfaeyza Abriadi klo sebutan dokter setelah mendapatkan S.Ked gmn pula tu pak?? Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No: 178/U/2001 tentang ‘Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi’ tidak menyiratkan sedikitpun tentang pemakaian Ners untuk gelar akademik maupun profesional. Dalam Bab III : Jenis Gelar Akademik Pasal 6 menyebutkan, bahwa: “Gelar akademik terdiri atas Sarjana, Magister dan Doktor”.
  • Syaifoel Hardy Riduan Aboehurynfaeyza Abriadi; karena area yg kita bahasa adalah Ners, agar tidak terkesan ke mana-mana fokus diskusi ini, saya tidak menjawab pertanyaan saudara lebih detail. Yg jelas, di dunia ini tidak dikenal istilah dokter yg dpt ijin praktik/kerja jika ‘paket’ belajarnya tidak lengkap. Misalnya hanya menyelesaikan program S1 nya saja. Sebaliknya, di dunia ini, tidak ada istilah Ners, sesudah menyelesaikan S1 nya, kemudian baru boleh/diijinkan praktik/kerja spt di negeri kita yang semoga saja tdk terjadi. Apa karena nursing di negeri kita ikut2an /niru program pendidikan ‘bapak’ angkatnya? Wallahu a’lam!
  • Ichsan Budiharto sebenarnya itu adalah gelar profesi yang disandang oleh rekan yang telah mengikuti pendidikan profesi. seperti apt, dr dan lain-lain. bagaimana dengan gelar etn, wocn, awcs yang memang gelar tersebut sudah disetujui oleh kemenkes yang dapat digunakan pada rekan-rekan yang telah mengikuti pelatihan ke profesian
  • N Hasan Mujamsyah P Ayo buat .nursing Board .di Indonesia !!!!!

 

Anda tertarik tulisan anda tampil di website INDONESIANNURSINGTRAINERS.COM?
Jika tertarik, silahkan kirim artikel anda ke indonesiannursingtrainers@yahoo.com atau SUBMIT HERE

 

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share to Google Plus

Comments

comments

Top
Pinterest