RAKSASA TERPENCIL BERMANDI REZEKI
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Syaifoel Hardy
Untuk pertama kalinya selama hidup saya menginjakkan kaki di puncak pegunungan pinggiran
Laut Selatan dengan jalan kaki. Dengan ditemani Puni, ayah dua orang
anak, dari Desa Besuki, Kecamatan Munjungan, kami menelusuri hutan-
hutan menuju Salamwates, Kecamatan Dongko, Trenggalek Selatan, Jawa
Timur.
Saya minta Pak Puni, berhenti berkali-kali karena sudah lama
tidak pernah memanjat gunung. Sesampainya di puncak saya
berucap “Subhanallah…, betapa sempurnanya ciptaanMu ya Allah…..!”
Kami berada di ketinggian sana. Nun jauh, di sebelah selatan, Lautan Indonesia luas membentang tanpa batas. Biru, damai. Kecuali kami, berjalan dengan bekal seadanya, bersandal jepit, hutan sepi. Hanya suara burung, gesekan daun dan ranting yang sesekali terdengar di tengah hembusan angin. Saya terhenyak!
Itulah babakan pertama saya melangkahkan kaki di sebuah daerah yang
bagi sementara orang kering, tidak menjanjikan apa-apa. Salamwates nama desanya. Saya tembusi dari sisi lain, dengan memanjat hutan dan gunung. Potong kompas. Sebuah desa desa terpencil, di bagian selatan Trenggalek.
Guna mencapainya diperlukan waktu satu setengah jam perjalanan dari Trenggalek ke pusat kecamatan, Dongko, kemudian jalan kaki selama dua jam untuk sampai di mulut desa. Itu perjalanan normal. Jadi tidak melewati jalur umum yang biasa orang tempuh lewat kota. Ini saya lakukan karena saat itu saya berada di Munjungna. Agar tidak memutar. Lebih singkat, tapi perlu ‘memanjat’.
Jangan kaget, jaraknya tidak kurang dari 8 km berbatu-batu, naik turun, guna menempuh jalan ‘normal’ tadi! Waktu itu tidak ada sarana kendaraan bermotor sama sekali.
SURE, I WILL BE A GIANT
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Sono Prabowo – Assalaamu’alaikum Wr.Wb. Nama saya Sono Prabowo, Lahir di Siak 06-06-1993. Kedua orang tua saya tinggal di Rokan Hulu – Riau. Ayah saya bekerja sebagai Petani, dan Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga, dengan warung kecil yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Ruang tamu tanpa keramik, dengan dinding triplek, dan atap seng (ketika hujan suaranya tetesannya sangat keras), itulah gambaran rumah kedua orang tua saya yang lebih pantas disebut Gubuk di tengah hutan tempat para transmigran dari jawa.
Kelas 2 MTs semester I saya memutuskan dengan keinginan sendiri meninggalkan provinsi Riau, untuk menuju Sebuah Pesantren di Pinggiran Kota Wonosobo Jawa Tengah.
Saya pergi tanpa didampingi orang tua, melainkan dititipkan tetangga yang juga ingin menyantrikan anaknya dipesantren Miftahul Huda (Tempat tersebut sama dengan kisah dari Imron Rosadi dengan judul ‘Raksasa Lereng Gunung Slamet’ di www.indonesiannursingtrainers.
Lulus MTs Al-Ghazaly di Pesantren Miftahul Huda saya kembali ke Riau dengan ditemani seorang pemudah perantauan yang ingin merantau ke desa saya. Jadi, selama saya di pesantren kedua orang tua, saya tidak pernah menjenguk dan melihat bagaimana pesantren saya.
Setelah satu tahun di Riau tanpa sekolah, saya memutuskan untuk kembali lagi ke Jawa di tempat yang sama yaitu Pesantren Miftahul Huda. Kedatangan saya kali ini ditemani Bapak.
Saya melanjutkan Sekolah SMK dengan Kejuruan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) di SMK Takahssus Al-Qur’an Wonosobo (kebetulan tempat sama juga dengan kisah dari Imron.
Tiga tahun sekolah yang berbasis Al-Qur’an dan Tekhnologi saya sangat bersyukur.
Akhirnya saya kembali lagi ke Riau setelah tiga tahun menyelesaikan belajar di SMK Takhassus Al-Qur’an. Sesampainya di Riau saya cari di internet kampus yang sangat bagus, seperti di TV yang saya impikan sejak kecil.
Ketemulah STIKES Telogorejo Semarang. Saya terbang ke Jakarta, kali ini saya pergi tanpa didampingi siapapun (ini adalah pengalaman pertama saya duduk di pesawat).
Sesampainya di Jakarta, saya menggunakan bus menuju Semarang. Peta kampus dan formulir pendaftaran yang saya tuju sudah saya print dari website www.stikestelogrejo.ac.id.
“Mengapa kamu ingin menjadi Perawat?” Itulah pertanyaan, ketika saya berada di tahap interview. Saya jawab : “Saya ingin menjadi perawat di Papua, ke Timur Tengah, dan Afrika”. Dari jawaban itu saya langsung diterima. Dalam hati yang sangat berbagia, inilah Kampus Impian sejak kecil yang saya idamkan.
Salah satu impian dari jutaan mimpi, adalah saya ingin menjadi perawat di pedalaman Indonesia Timur yang tertinggal. Saya ingin menjadi Perawat di Timur Tengah, utamanya di Palestina, juga ingin menjadi perawat di Africa. Bukan uang yang saya cari, tetapi apa yang sudah diberikan Allah yang akan saya manfaatkan untuk orang lain.
Sekarang saya sudah Semester II. Di semester ini lah saya baru mengenal yang namanya PPNI (Padahal ketika saya dulu Ospek/PPS pembicaranya adalah ketua PPNI Jawa Tengah Bapak Edy Wuryanto). Bergabunglah saya diberbagai forum forum perawat, hingga saya mendapat berbagai pengetahuan dan keluhan-keluhan perawat di Indonesia. Dari sinilah saya baru terbayang bagaimana teman-teman sejawat yang sudah menjadi perawat di Tanah Air tercinta ini.
MY MOM IS A GIANT
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Amalia Cahyaningtyas – “ Dan wisudawan selanjutnya……. Ns. Amalia Cahyaningtyas, S.Kep…” Perlahan dengan kain batik yang membungkus kaki ku dan sepatu hak tinggi, aku berjalan perlahan menaiki podium. Di sana sedah berdiri sederet orang–orang penting di kampusku. Satu per satu ku salami mereka. Dan akhirnya tanganku penuh dengan tropi dan ijazah.
Setelah 5 tahun aku menempuh study ku di salah satu sekolah tinggi kesehatan swasta di kota Semarang ini, aku sampai di salah satu stasiun. Di mana aku harus turun dari kereta bernama kampus dan melanjutkan perjalananku menuju dunia baru, dunia pekerjaan.
Sementara aku maju ke podium dengan kebaya warna putih, di kursi pengantar ada sepasang mata yang berkaca–kaca mengikuti jalannya prosesi wisuda dan angkat sumpah profesi ners. Mata dari seorang wanita yang hampir paruh baya, yang sengaja mengambil cuti untuk mengiringi salah satu hari berkesan putrinya.
Mata yang terkadang melotot tajam saat aku tidak mematuhi apa yang jadi perintahnya. Mata yang penuh keceriaan ketika kami saling bersenda gurau. Mata yang juga sering mendengarkan ceritaku sambil mengantuk karena baru pulang jaga malam.
Ketika membicarakan siapa “raksasa” dalam hidupku, dialah ibuku. Karena tanpa kekuatan dan kegigihannya aku mungkin tidak akan lulus menjadi seorang sarjana keperawatan dan telah menyelesaikan study profesi.
Ibu dilahirkan di keluarga yang sebenarnya berkecukupan. Keluarga seorang pamong desa, yang tentu termasuk keluarga priyayi di jaman itu. Itu dibuktikan dari keempat anak nenek yang semua kelahirannya di bantu bidan. Padahal waktu itu, hanya orang–orang tertentu saja yang bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan dari bidan.
I AM A LOYAL GIANT
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Puji Hastuti | Purwokerto – Tidak banyak yang aku ingat waktu berada di sekolah dasar dulu. Aku yang anak desa lahir dari pedagang kecil yang memiliki cita-cita menjadi seorang guru dan perawat. Cita-cita itu terbit dari masa kecil ketika duduk di kelas 3 SD Negeri Buntu III Kroya Cilacap, aku ditunjuk untuk mengikuti penataran menjadi dokter kecil.
Sungguh bahagia waktu itu, dengan berbekal baju putih-putih, topi dan PIN dokter kecil memberikan kebanggaan tersendiri. Bertugas di belakang lapangan kalau upacara bendera, siap siaga kalau ada teman-teman yang sakit dan melakukan pemeriksaan kesehatan setiap senin pagi seperti memeriksa kuku, gigi dan kebersihan badan teman-teman di sekolah, merupakan memory yang tidak mudah hilang hingga kini. Karena memory tersebut telah menuntunku menjadi seperti sekarang.
Gambaran kecil tentang seorang petugas kesehatan dengan baju putih-putihnya telah membangkitkan semangat untuk belajar sehingga aku bisa menyelesaikan sekolah di SD dengan predikat terbaik di sekolahku. Berbekal kelulusan terbaik tersebut aku optimis melanjutkan ke sekolah SMP yang favorit di kecamatanku. SMP Negeri I Kroya adalah tujuanku berikutnya. Dengan nilai tersebut aku diterima dan bisa belajar di sekolah tersebut. Perjuangan baru dimulai.
SMP Negeri I Kroya adalah sekolah di kota kecamatan yang jaraknya kurang lebih 7 KM dari rumah. Waktu itu belum banyak transportasi umum dari desaku ke Kroya, alhasil naik sepeda onthel adalah pilihan terbaik saat itu. Satu jam perjalanan naik sepeda onthel ke sekolah tiap pagi dan sore aku jalani dengan senang hati walaupun kadang-kadang ada saja peristiwa yang membikin kesal.
Pernah suatu hari, aku harus berangkat pagi-pagi, jam 5.30 pagi sudah siap berangkat, kutuntun sepeda keluar rumah, ternyata bannya gembos. Aku bawa ke tetangga yang mempunyai pompa sepeda yang ternyata ban sepedanya juga bocor! Akhirnya, aku harus berangkat dengan mencari bengkel terlebih dahulu dan sampai ke sekolah kesiangan.
YOU, GIANT, DON’T GET LOST!
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Fernando La Eba | Kuwait – Siapa sangka seorang putra bungsu yang sangat kolot, yang tidak pernah merasakan nikmatnya masa kanak-kanak, yang selalu di kurung di rumah tanpa pergaulan, yang biasa di lakukan oleh anak-anak seumurannya bisa mencapai titik puncak yang melebihi target dari pada cita-citanya?
Iya……
Ini lah yang terjadi, ini adalah kenyataan. Bukan basa basi ataupun rekayasa seperti perjalanan hidup yang banyak di gambarkkan oleh sutradara sinetron yang sangat di gemari masyarakat sekarang.
Berbekal pengalaman hidup yang kurang, pengetahuan yang minim, hanya berdasarkan informasi dari orang lain akhirnya terjerumus ke dalam ruang lingkup yang sempit.
Hmmm perawat. Iya…. Hanya perawat. Sekali lagi hanya perawat.
Apakah kata “Hanya” pantas untuk di sebut?
A GIANT at KING SAUDI ROYAL PALACE
INDONESIANNURSINGTRAINERS.com | Yusuf Eko Suwarno Juki | Riyadh – Assalammualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Saudara saudaraku rekan sejawat yang dirahmati Allah swt.
Pertama tama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang mana sampai saat ini kami masih diberikan rahmat dan hidayahnya serta kesehatan jasmani dan rokhani sehingga kami masih diberi kesempatan untuk menulis sebuah kisah tentang sedikit perjalanan hidup kami yang ada hubungannya dengan dunia keperawatan yang mungkin bisa menginspirasi para Perawat Yunior untuk mengambil pelajaran dari kisah kecil ini.
Yang kedua ijinkan kami memperkenalkan diri nama saya Eko Suwarno anak Pertama dari 7 bersaudara lahir di Desa Sugihwaras Prambon Nganjuk Jawa Timur 48 tahun silam (Bocah Ndeso) anak seorang Guru nyambi berternak dan bertani. Atas ijin Allah lewat kejujuran dan kegigihan Ayahnda Almarhum kami semua lulus Perguruan Tinggi walaupun hanya saya yang D-III Keperawatan, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Almarhum Amin.
Saudara saudaraku yang dicintai Allah swt………….
Yang ke tiga saya akan memulai kisah ini tentu saja dari flash back masa lalu……
Dari kecil sampai SMA aku tidak pernah punya cita cita menjadi seorang Perawat. Aku hanya ingin menjadi seorang Tentara, karena aku terinspirasi pamanku seorang tentara yang gagah dan disegani.
Sewaktu SMA aku sekolah biasa saja gak punya semangat yang kuat dalam belajar apalagi bersaing untuk memperoleh nilai terbaik dalam mata pelajaran di Sekolah dan tidak ada niat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang ada hanya olahraga dan olahraga. Pamanku berjanji asal aku lulus SMA dan menyusul ke Kalimantan aku dijamin jadi tentara.
Singkat cerita ternyata Allah punya kehendak lain atas hamba yang hina ini……yang mana akhirnya aku mendaftarkan diri di AKPER Karya Husada Kediri dan diterima menjadi Mahasiswa Angkatan ke III.
Waktu itu aku yang tidak pernah belajar dengan sungguh sungguh diterima menjadi Mahasiswa di antara 45 pendaftar dari 400 lebih pendaftar…subhanallah bagi saya ini adalah peristiwa luar biasa…. betapa luar biasa campur tangan Allah dalam hidupku.
Dari sini aku baru menyadari……seolah-olah baru bangun dari tidur yang panjang….aku harus bangkit belajar dengan sungguh sungguh….Alhamdulillah usahaku tidak sia sia. Saya selalu mendapat nilai yang baik dalam setiap mata pelajaran. Kalau peringkat kala itu ya….. antara Peringkat I sampai III kemudian aku dipilih menjadi Ketua Tingkat yang menambah rasa percaya diri dalam setiap langkah kami sebagai Mahasiswa….
Setiap ada jam kosong saya sering diminta oleh Dosen Pengajar untuk memimpin ataupun mengisi mata pelajaran yang kosong tersebut.
Demikianlah kami lalui setapak demi setapak menikmati suka dan duka sebagai Mahasiswa Akper. Semester demi Semester kami lalui dan akhirnya tibalah saat yang kami tunggu tunggu pada bulan November 1989 kami dinyatakan Lulus dan Diwisuda.












